Krisis Ayah, Krisis Peradaban
Oleh : Dr.Iswadi M.Yazid, Lc.,M.Sy
Tidak ada peradaban yang lahir begitu saja. Peradaban besar selalu berawal dari keluarga-keluarga yang mampu menanamkan iman, akhlak, ilmu, dan tanggung jawab kepada generasi penerusnya. Dari rumah yang sederhana, lahir para pemimpin, ulama, ilmuwan, negarawan, dan tokoh-tokoh yang mengubah sejarah. Sebaliknya, ketika keluarga mulai kehilangan arah, keruntuhan sebuah peradaban sebenarnya telah dimulai, meskipun gedung-gedung masih berdiri megah, ekonomi tampak bertumbuh, dan teknologi berkembang pesat. Sebab, kekuatan sebuah bangsa pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi bangunannya atau seberapa canggih teknologinya, melainkan oleh kualitas manusia yang dibentuk di dalam keluarganya.
Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 menjadi momentum yang tepat untuk kembali menengok fondasi paling dasar pembangunan bangsa, yakni keluarga. Di tengah berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks, ada satu persoalan yang sering luput dari perhatian, padahal dampaknya sangat besar bagi masa depan bangsa, yaitu krisis peran ayah. Persoalan ini bukan sekadar urusan rumah tangga, melainkan persoalan pendidikan, sosial, psikologi, bahkan menyangkut arah peradaban.
Selama ini banyak orang mengira krisis ayah hanya terjadi ketika seorang anak kehilangan ayah karena meninggal dunia, perceraian, atau perpisahan. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Tidak sedikit anak yang tinggal serumah dengan ayahnya, tetapi nyaris tidak pernah merasakan kehadiran sosok tersebut dalam kehidupannya. Ayah ada, tetapi sibuk. Ayah pulang, tetapi kelelahan. Ayah berbicara, tetapi hanya seperlunya. Akibatnya, hubungan emosional yang seharusnya tumbuh secara alami perlahan menghilang.Fenomena inilah yang oleh para psikolog disebut sebagai father absence, yaitu kondisi ketika fungsi seorang ayah tidak berjalan sebagaimana mestinya meskipun ia masih hadir secara fisik. Ia tetap bekerja mencari nafkah, tetapi tidak lagi menjadi tempat anak bercerita. Ia tetap tinggal di rumah, tetapi tidak lagi menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Ia hadir sebagai pencari rezeki, namun belum sepenuhnya hadir sebagai pendidik, pembimbing, sahabat, sekaligus teladan.
Perubahan zaman turut mempercepat munculnya fenomena ini. Tuntutan ekonomi membuat banyak ayah menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital ikut mengubah cara anggota keluarga berinteraksi. Ironisnya, teknologi yang seharusnya memudahkan komunikasi justru sering menciptakan jarak di dalam rumah. Tidak jarang setiap anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing. Meja makan yang dahulu menjadi tempat berbagi cerita kini berubah menjadi ruang sunyi. Percakapan hangat semakin jarang, sementara perhatian anak lebih banyak tersita oleh media sosial, permainan daring, dan berbagai konten digital.
Situasi ini membawa dampak yang tidak sederhana. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, dan kasih sayang mulai kehilangan perannya. Ketika ayah tidak lagi hadir untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, ruang kosong itu akan segera diisi oleh lingkungan pergaulan, media digital, atau figur-figur publik yang belum tentu memberikan teladan yang baik. Akibatnya, banyak anak lebih mengenal tokoh media sosial daripada mengenal karakter ayahnya sendiri.
Mereka hafal nama para influencer, tetapi tidak memahami nilai-nilai kehidupan yang semestinya diwariskan di rumah.Padahal, keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap manusia. Di sanalah karakter mulai dibentuk sebelum anak mengenal sekolah, masyarakat, bahkan negara. Jika fondasi ini rapuh, maka proses pendidikan berikutnya akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Tidak mengherankan apabila berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Anak yang tumbuh bersama ayah yang aktif mendampingi umumnya memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, kemampuan mengendalikan emosi yang lebih matang, prestasi belajar yang lebih tinggi, serta lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Sebaliknya, minimnya keterlibatan ayah sering kali membuat anak kehilangan figur yang menjadi tempat belajar tentang keberanian, tanggung jawab, dan pengendalian diri.
Hal ini tidak berarti setiap anak tanpa ayah akan mengalami kegagalan, sebab banyak ibu yang mampu menjalankan peran luar biasa dalam membesarkan anak-anaknya. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ayah memberikan kontribusi yang unik dan tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh siapa pun.
Dalam psikologi perkembangan dijelaskan bahwa ibu umumnya membangun kedekatan emosional yang membuat anak merasa dicintai dan diterima. Sementara itu, ayah berperan memperkenalkan anak kepada dunia luar. Dari ayahlah anak belajar menghadapi tantangan, mengambil keputusan, menghargai aturan, berani mencoba, dan bangkit ketika mengalami kegagalan.
Karena itu, anak membutuhkan keduanya, bukan untuk saling menggantikan, tetapi untuk saling melengkapi.Tantangan tersebut semakin berat pada era digital. Anak-anak saat ini tumbuh dalam arus informasi yang nyaris tanpa batas. Setiap hari mereka menerima ribuan pesan melalui media sosial, video pendek, permainan daring, hingga kecerdasan buatan. Di satu sisi, perkembangan teknologi membuka peluang besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Namun di sisi lain, teknologi juga membawa berbagai nilai yang tidak selalu sejalan dengan ajaran agama maupun budaya bangsa.
Tanpa pendampingan orang tua, terutama ayah sebagai pemimpin keluarga, anak akan lebih mudah terpengaruh oleh gaya hidup instan, budaya konsumtif, individualisme, bahkan krisis moral.Di sinilah Islam memberikan pandangan yang sangat jelas. Seorang ayah tidak hanya bertugas mencari nafkah, tetapi juga memikul amanah untuk menjaga, membimbing, dan mendidik keluarganya.
Allah Swt. berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang ayah bukan hanya memastikan keluarganya hidup berkecukupan, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dalam keimanan, ibadah, dan akhlak yang baik.
Rasulullah SAW. pun mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya. Seorang ayah, dengan demikian, bukan sekadar kepala keluarga dalam arti administratif, melainkan pemimpin yang bertanggung jawab atas arah kehidupan keluarganya. Keberhasilannya tidak semata-mata diukur dari besarnya penghasilan atau tingginya jabatan, tetapi dari sejauh mana ia mampu melahirkan anak-anak yang saleh, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Al-Qur'an menghadirkan banyak teladan tentang kepemimpinan seorang ayah. Nabi Ibrahim a.s. tidak hanya mengajarkan tauhid kepada putranya, tetapi juga berdialog dengannya ketika menghadapi ujian yang sangat berat. Nabi Ya'qub a.s. tetap memikirkan keimanan anak-anaknya bahkan menjelang wafat. Luqman al-Hakim mengabadikan nasihat-nasihatnya kepada sang putra yang hingga kini menjadi pedoman pendidikan keluarga dalam Islam. Semua kisah tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tidak dibangun melalui perintah semata, tetapi melalui kedekatan, komunikasi, keteladanan, dan kasih sayang.Karena itu, ketika seorang ayah mulai kehilangan perannya sebagai pendidik dan pembimbing, sesungguhnya yang sedang melemah bukan hanya sebuah keluarga, tetapi fondasi sebuah peradaban.
Krisis ayah pada akhirnya bukan persoalan individu semata, melainkan persoalan bangsa. Sebab, kualitas Indonesia pada masa depan sangat ditentukan oleh kualitas keluarga yang dibangun hari ini.wallahu a’lam