Pencarian

Pejabat Anti Jaim! Wabup Pelalawan Husni Tamrin Ngakak Sampai Lupa Nasi Sudah Habis

Rabu, 06 Mei 2026 • 18:42:00 WIB
Pejabat Anti Jaim! Wabup Pelalawan Husni Tamrin Ngakak Sampai Lupa Nasi Sudah Habis

PELALAWAN – Ini bukan rapat dinas, Bukan juga acara formal penuh sambutan yang bikin ngantuk. Rabu (6/5/2026), suasana di Rumah Makan Pak Itam justru berubah jadi “markas ketawa” gara-gara Wakil Bupati Pelalawan, H. Husni Tamrin, SH, turun langsung makan siang bareng wartawan.

Mulai pukul 12.30 WIB, bukannya duduk manis nunggu dilayani, Husni Tamrin malah keliling kayak tuan rumah. Satu persatu wartawan disamperin. Salaman? Iya. Ketawa? Apalagi. Candaan? Nggak berhenti.

“Kalau kayak gini kan enak, nggak tegang. Yang penting nasi jangan tegang juga, nanti keras,” celetuknya, bikin meja sebelah langsung pecah.

Obrolan pun ngalir bebas, dari kisah liputan kehujanan sampai drama kejar-kejaran deadline yang lebih menegangkan dari sinetron. Wabup Yang akrab disapa tamrin ikut nimbrung, kadang serius dengerin, tapi ujung-ujungnya tetap nyelipin humor.

“Berarti kalian ini kerjaannya ekstrem juga ya. Wartawan rasa petualang,” katanya sambil ketawa.

Yang unik, di tengah serunya ngobrol, ada yang baru sadar: nasi di piring masing-masing mulai menipis, bahkan ada yang tinggal lauk doang. Saking asyiknya cerita, makan jadi nomor dua.

Nggak ada tuh yang namanya jaim. Nggak ada batas pejabat dan wartawan. Semua duduk setara—yang beda cuma porsi makan aja.

Beberapa wartawan sempat curhat soal suka duka di lapangan. Husni dengerin serius, lalu nyeletuk santai, “Yang penting tetap semangat. Kalau capek, ya makan lagi… tapi jangan nunggu diundang saya terus,” disambut gelak tawa.

Rumah Makan Pak Itam hari itu bukan cuma tempat makan, tapi berubah jadi panggung keakraban. Sendok beradu, cerita bersahutan, tawa berseliweran ke segala arah.

Pesan moralnya? Kadang solusi itu nggak lahir dari ruang rapat ber-AC, tapi dari meja makan dengan sambal yang pedas dan obrolan yang lepas.

Acara bubar tanpa aba-aba. Nggak ada penutupan resmi. Tahu-tahu sudah pada berdiri, masih sambil ketawa, tepuk pundak, dan saling lempar, “Kapan-kapan kita repeat lagi, Pak!”

Intinya sederhana: kalau ngobrolnya santai, urusan bisa selesai tanpa harus pasang muka serius. Dan satu hal yang pasti—siang itu, yang kenyang bukan cuma perut, tapi juga hati… plus bonus sakit perut karena kebanyakan ketawa.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks