Ketika Teknologi Tak Mampu Menghadirkan Hujan Oleh: Iswadi M. Yazid

Penulis: Redaksi  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:13:00 WIB

Ketika Teknologi Tak Mampu Menghadirkan Hujan
Oleh: Iswadi M. Yazid

Kemarau panjang selalu menghadirkan pelajaran yang tidak sederhana bagi kehidupan manusia. Ketika hujan tidak kunjung datang dalam waktu yang cukup lama, persoalan yang muncul bukan hanya tanah yang kehilangan kelembapannya, tanaman yang mulai mengering, atau berkurangnya debit sungai dan sumber air, tetapi juga munculnya kesadaran bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki nilai yang luar biasa. Air yang setiap hari tersedia dari keran, sumur, sungai, dan berbagai sumber lainnya tiba-tiba menjadi kebutuhan yang sangat diperhitungkan. Dalam situasi seperti itu, masyarakat Muslim memiliki tradisi spiritual yang kuat, yakni melaksanakan salat Istisqa sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan. Di tengah lapangan terbuka, manusia berkumpul dengan segala keterbatasannya, menanggalkan sejenak rasa percaya diri yang dibangun oleh kemajuan teknologi, kemudian mengangkat tangan dan memohon kepada Zat yang diyakini sebagai pemilik seluruh sumber kehidupan. Fenomena ini menarik untuk direnungkan karena berlangsung di tengah zaman ketika manusia telah memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca cuaca, mengembangkan teknologi pengelolaan air, memantau pergerakan awan melalui satelit, serta memperkirakan kemungkinan turunnya hujan. Namun, kemampuan membaca alam ternyata tidak serta-merta menjadikan manusia mampu mengendalikan alam. Di sinilah Istisqa menemukan relevansinya: ia bukan sekadar praktik keagamaan untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga menjadi ruang perenungan tentang batas kemampuan manusia, hubungan manusia dengan alam, arti doa dan ikhtiar, serta hubungan paling mendasar antara makhluk dengan Sang Pencipta.Dalam perspektif Islam, Istisqa merupakan salah satu bentuk ibadah yang menunjukkan ketergantungan manusia kepada Allah SWT ketika kebutuhan terhadap hujan menjadi sangat mendesak. Rasulullah SAW pernah melaksanakan salat Istisqa ketika masyarakat mengalami kekeringan. Dengan demikian, Istisqa bukan sekadar respons spontan terhadap fenomena alam, melainkan bagian dari ajaran yang menanamkan kesadaran bahwa manusia, betapapun tinggi ilmu dan teknologinya, tetap merupakan makhluk yang memiliki keterbatasan. Al-Qur'an memberikan gambaran mengenai hubungan antara istighfar dan turunnya hujan dalam QS. Nuh: 10–12. Pesan ayat tersebut tidak tepat apabila dipahami sebagai formula bahwa istighfar akan selalu menghasilkan hujan secara langsung dan otomatis. Lebih jauh dari itu, ayat tersebut menghadirkan kesadaran bahwa ketika manusia menghadapi kesulitan, ia perlu kembali melakukan evaluasi terhadap dirinya, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan Allah, sekaligus memperbaiki perilaku sosial dan moralnya. Dengan demikian, Istisqa seharusnya menjadi momentum muhasabah, bukan sekadar agenda seremonial yang dilakukan ketika musim kering datang.Kemarau sendiri merupakan fenomena yang memiliki penjelasan ilmiah. Perubahan pola atmosfer, dinamika suhu permukaan laut, fenomena iklim seperti El Niño, perubahan pola curah hujan, degradasi lingkungan, deforestasi, perubahan tata guna lahan, serta cara manusia mengelola sumber daya air dapat berkontribusi terhadap munculnya kondisi kekeringan. Karena itu, persoalan kemarau tidak dapat diselesaikan hanya dengan doa tanpa ikhtiar. Masyarakat membutuhkan kebijakan pengelolaan air yang baik, sistem irigasi yang efektif, perlindungan terhadap kawasan resapan, konservasi hutan, penghematan air, serta kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim. Akan tetapi, memahami kemarau secara ilmiah tidak berarti menghilangkan dimensi spiritual dari fenomena tersebut. Sains dan agama memiliki ruang yang berbeda namun dapat saling melengkapi. Sains membantu manusia memahami proses dan mekanisme alam, sedangkan agama mengajak manusia menemukan makna dan sikap moral dalam menghadapi proses tersebut. Dengan ilmu pengetahuan manusia dapat memahami bagaimana awan terbentuk, bagaimana siklus hidrologi berlangsung, mengapa pola hujan berubah, dan faktor apa saja yang memengaruhi kekeringan. Namun, agama mengajak manusia mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang menciptakan hukum-hukum alam tersebut, siapa yang memungkinkan kehidupan berlangsung melalui air, dan mengapa manusia harus menyadari keterbatasannya di tengah keluasan alam semesta? Pada titik inilah pengetahuan ilmiah tidak harus berakhir pada materialisme, tetapi dapat menjadi jalan menuju perenungan spiritual yang lebih dalam.Kekeringan juga mengingatkan manusia terhadap sesuatu yang sering terlupakan ketika hidup berada dalam keadaan serba tersedia, yakni betapa fundamentalnya air bagi kehidupan. Ketika air mengalir dengan mudah, manusia cenderung menggunakannya tanpa banyak pertimbangan. Namun ketika kemarau berkepanjangan menyebabkan sumur menurun, sungai menyusut, tanaman mengering, dan kebutuhan air semakin sulit dipenuhi, barulah manusia menyadari bahwa air bukan sekadar sesuatu yang tersedia tanpa batas. QS. Al-Anbiya: 30 menempatkan air sebagai unsur fundamental kehidupan. Pesan tersebut seharusnya mendorong lahirnya kesadaran ekologis dalam kehidupan umat. Jika manusia meminta hujan kepada Allah, maka setelah hujan turun manusia juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga air dan lingkungan yang menjadi tempat berlangsungnya kehidupan. Tidak selayaknya manusia berdoa memohon hujan, tetapi pada saat yang sama merusak hutan, mencemari sungai, membuang sampah ke saluran air, mengeksploitasi sumber daya alam tanpa kendali, dan menggunakan air secara berlebihan. Doa dan kepedulian ekologis semestinya berjalan beriringan. Memohon rahmat Allah tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab manusia untuk menjaga amanah yang diberikan kepadanya.Di sinilah Istisqa perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Ia bukan hanya tentang bagaimana manusia meminta hujan, tetapi tentang bagaimana manusia mengubah dirinya setelah memohon hujan. Ada persoalan yang lebih penting daripada sekadar apakah hujan akan turun setelah salat Istisqa, yaitu apakah manusia menjadi lebih sadar terhadap kesalahannya, lebih peduli terhadap lingkungan, lebih menghargai air, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Jangan sampai Istisqa hanya menjadi kegiatan yang ramai ketika kemarau, sementara setelah hujan turun seluruh pesan moralnya kembali dilupakan. Istisqa seharusnya melahirkan perubahan perilaku. Jika manusia meminta air, ia harus belajar menghemat air. Jika manusia meminta rahmat, ia harus belajar menjadi sumber rahmat bagi sesama. Jika manusia memperbanyak istighfar, maka istighfar tersebut harus diikuti dengan usaha meninggalkan perbuatan yang salah. Jika manusia memohon agar bumi mendapatkan kehidupan kembali, maka manusia juga harus berusaha menghentikan tindakan yang mempercepat kerusakan bumi. QS. Ar-Rum: 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia. Ayat tersebut tidak boleh digunakan secara gegabah untuk menyimpulkan bahwa setiap kemarau atau bencana pasti merupakan hukuman langsung karena dosa manusia. Namun, ayat tersebut sangat kuat untuk mengingatkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan harus mengevaluasi perilakunya dalam memperlakukan alam.Fenomena turunnya hujan setelah pelaksanaan Istisqa juga sering menjadi bahan perenungan masyarakat. Ketika setelah doa dan pelaksanaan salat Istisqa kemudian hujan turun, seorang Muslim tentu dapat menjadikannya sebagai momentum syukur dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Namun, keyakinan tersebut tidak harus membuat kita menolak penjelasan ilmiah tentang proses turunnya hujan. Hujan tetap berlangsung melalui mekanisme atmosfer, siklus air, pembentukan awan, kondensasi, dan berbagai faktor meteorologis lainnya. Istisqa tidak perlu dipahami sebagai proses fisik yang secara otomatis menyebabkan hujan, karena agama tidak mengharuskan umatnya menolak hukum-hukum alam. Justru yang menarik adalah bagaimana seorang beriman membaca keteraturan alam tersebut sebagai bagian dari sunnatullah. Manusia dapat menghitung peluang hujan, tetapi manusia tidak menciptakan hukum yang membuat air menguap dan kembali turun ke bumi. Manusia dapat membaca citra satelit, tetapi tidak menciptakan awan. Manusia dapat membangun bendungan dan sistem irigasi, tetapi tidak mampu menciptakan kehidupan dari ketiadaan. Semakin dalam manusia memahami kompleksitas alam, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa alam bukan sesuatu yang berdiri sendiri tanpa pencipta dan pengatur.Pada akhirnya, kemarau panjang menghadirkan pelajaran tauhid yang sangat kuat. Ketika kehidupan berjalan normal, manusia mudah merasa memiliki kendali atas segala sesuatu. Kekayaan, teknologi, ilmu pengetahuan, jabatan, dan berbagai kemampuan yang dimiliki dapat menumbuhkan ilusi bahwa manusia mampu menentukan seluruh kehidupannya sendiri. Namun, kemarau mengajarkan bahwa ada wilayah kehidupan yang berada di luar kendali manusia. Manusia dapat memprediksi, tetapi tidak selalu dapat menentukan. Manusia dapat mengusahakan, tetapi tidak selalu dapat memastikan. Manusia dapat mengelola air, tetapi tidak dapat memerintahkan langit untuk menurunkan hujan sesuai kehendaknya. Ketika berbagai kemampuan tersebut sampai pada batasnya, manusia kembali menengadahkan tangan. Di situlah Istisqa sesungguhnya menjadi sebuah pengakuan tauhid: bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan Allah. Pengakuan tersebut bukanlah bentuk kemunduran, melainkan bentuk kedewasaan spiritual. Manusia boleh memiliki ilmu setinggi langit, tetapi ia tetap harus memiliki kerendahan hati di hadapan Pencipta langit. Manusia boleh menguasai teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan kesadaran bahwa teknologi itu sendiri merupakan kemampuan yang pada akhirnya diberikan oleh Allah SWT.Karena itu, fenomena Istisqa di tengah kemarau panjang semestinya tidak hanya dibaca sebagai berita tentang masyarakat yang meminta hujan. Di balik saf-saf yang berdiri di lapangan, tangan yang terangkat, dan doa yang dipanjatkan, terdapat pesan kemanusiaan dan ketuhanan yang sangat dalam. Istisqa mempertemukan manusia dengan keterbatasannya, mempertemukan doa dengan ikhtiar, mempertemukan ilmu dengan iman, serta mempertemukan kesadaran ekologis dengan kesadaran tauhid. Kemarau mengajarkan manusia untuk tidak menganggap nikmat sebagai sesuatu yang otomatis. Air mengajarkan manusia tentang kehidupan. Hujan mengajarkan manusia tentang rahmat. Istighfar mengajarkan manusia tentang kerendahan hati. Dan Istisqa mengajarkan manusia tentang tempat bergantung yang sebenarnya. Istisqa pada akhirnya bukan hanya mengajarkan manusia bagaimana meminta hujan, tetapi mengajarkan manusia kepada siapa ia harus bergantung.Maka, ketika hujan akhirnya turun membasahi tanah yang kering, yang semestinya berubah bukan hanya warna bumi, tetapi juga cara pandang manusia terhadap kehidupan. Setiap tetes air yang jatuh seharusnya menghidupkan kembali rasa syukur, kepedulian, dan kesadaran bahwa kehidupan tidak berlangsung secara sia-sia. Alam bukan Tuhan, tetapi alam adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan. Awan bukan Tuhan, tetapi perjalanan awan menunjukkan keteraturan ciptaan-Nya. Hujan bukan Tuhan, tetapi hujan membawa rahmat yang menunjukkan keluasan kasih sayang-Nya. Dan manusia, dengan seluruh ilmu serta teknologinya, tetaplah makhluk yang memiliki batas. Pada titik inilah fenomena Istisqa membawa kita kepada kesadaran yang paling mendasar: di balik keteraturan alam, keterbatasan manusia, dan setiap tetes air yang turun dari langit, terdapat eksistensi, kehendak, dan kekuasaan Allah SWT. Maka, ketika kita mengucapkan Alhamdulillah setelah hujan turun, sejatinya kita tidak hanya sedang bersyukur karena tanah kembali basah, tetapi sedang mengakui bahwa di balik seluruh kehidupan ini ada Allah SWT, Al-Khaliq, Ar-Razzaq, dan Al-Mudabbir—Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur seluruh kehidupan.wallahu a’lam 

Reporter: Redaksi
Back to top