Remaja Hanya Sedang Meniru Oleh: Dr. H. Iswadi M. Yazid, Lc., M.Sy.

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 21:34:00 WIB

Remaja Hanya Sedang Meniru
Oleh: Dr. H. Iswadi M. Yazid, Lc., M.Sy.

Kita terlalu sibuk memperbaiki anak-anak, tetapi lupa memperbaiki dunia yang mereka tiru. Setiap kali terjadi tawuran, perundungan, penyalahgunaan narkotika, balap liar, atau kejahatan digital, remaja hampir selalu menjadi terdakwa pertama. Mereka dianggap kehilangan adab, sekolah dinilai gagal mendidik, dan keluarga dipersalahkan karena lalai membimbing. Padahal, sebelum menghakimi mereka, ada satu pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang sebenarnya sedang membentuk cara berpikir generasi muda hari ini? Tidak ada anak yang tumbuh dalam ruang kosong. 

Mereka belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada dari apa yang mereka dengar. Cara orang tua menyelesaikan konflik, sikap guru terhadap murid, perilaku para pemimpin, hingga budaya yang hidup di media sosial menjadi ruang belajar yang membentuk cara mereka memandang kehidupan. Karena itu, ketika berbagai persoalan muncul secara bersamaan di banyak tempat, kita tidak sedang berhadapan dengan kegagalan individu. 

Kita sedang menyaksikan perubahan ekosistem sosial. Data dari KPAI, BNN, Kepolisian Republik Indonesia, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa kekerasan antaranak, penyalahgunaan narkotika, perundungan, hingga kejahatan digital masih menjadi tantangan serius. Namun, semua itu lebih tepat dibaca sebagai gejala, bukan akar persoalan. Yang kita saksikan bukan sekadar krisis remaja, melainkan krisis lingkungan yang membentuk mereka. 

Ironisnya, perubahan itu berlangsung tanpa banyak disadari. Orang tua masih bekerja demi keluarga, guru tetap mengajar di sekolah, dan berbagai program pembinaan terus berjalan. Namun, ada sesuatu yang perlahan menghilang: pengaruh. Waktu kebersamaan semakin sedikit, percakapan digantikan notifikasi, dan kedekatan dikalahkan kesibukan. Yang hilang bukan disiplin, melainkan keteladanan. 

Di saat hubungan antargenerasi melemah, dunia digital justru menawarkan kehadiran tanpa jeda. Algoritma selalu menemani, media sosial selalu menyediakan hiburan, dan para influencer berbicara lebih sering kepada anak-anak kita dibandingkan orang tua, guru, atau tokoh masyarakat. Yang rapuh bukan generasi muda, melainkan relasi antargenerasi. Banyak orang menyalahkan teknologi. Padahal, teknologi hanyalah alat. 

Persoalan sesungguhnya muncul ketika masyarakat kehilangan kemampuan membangun daya tahan moral bagi generasi mudanya. Tanpa pendampingan dan keteladanan, anak-anak akan mencari rujukan di tempat lain.

Algoritma tidak pernah mendidik; ia hanya memperkuat apa yang paling sering dipilih. Di sinilah Al-Qur'an menawarkan cara pandang yang lebih mendalam. Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. Ar-Ra'd [13]: 11). Ayat ini tidak berbicara tentang perubahan seorang anak, tetapi perubahan suatu kaum. Artinya, kualitas sebuah generasi tidak pernah lahir dari usaha individu semata, melainkan dari budaya yang hidup di tengah masyarakat. 

Anak-anak belajar jujur ketika kejujuran menjadi kebiasaan, belajar santun ketika kesantunan menjadi budaya, dan sebaliknya menganggap kebohongan, caci maki, serta kekerasan sebagai sesuatu yang lumrah ketika semua itu menjadi pemandangan sehari-hari. Remaja tidak lahir dalam ruang kosong; mereka tumbuh di dalam budaya yang kita ciptakan. Karena itu, terlalu sederhana jika persoalan hari ini hanya disebut sebagai krisis moral remaja. Yang sedang kita hadapi bukan krisis remaja, melainkan krisis keteladanan orang dewasa. Kita memiliki semakin banyak aturan, tetapi semakin sedikit figur yang layak ditiru. 

Kita membangun semakin banyak fasilitas pendidikan, tetapi semakin miskin ruang dialog. Kita mengajarkan karakter di ruang kelas, tetapi sering gagal menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yang diperebutkan hari ini bukan perhatian anak-anak, tetapi kepercayaan mereka. Kepada siapa mereka percaya, kepada dialah mereka belajar tentang kehidupan.Jika persoalan utamanya adalah melemahnya pengaruh orang-orang dewasa, maka jalan keluarnya bukan sekadar memperbanyak aturan. 

Aturan memang penting untuk menjaga ketertiban, tetapi karakter tidak pernah lahir dari banyaknya larangan. Karakter tumbuh dari keteladanan yang terus dilihat, hubungan yang terus dirawat, dan kepercayaan yang terus dibangun. Karena itu, bangsa yang ingin memperbaiki generasinya tidak cukup sibuk menyusun regulasi, melainkan harus lebih dahulu memulihkan budaya yang diwariskan kepada anak-anaknya.

Selama ini kita terlalu sering menganggap pendidikan sebagai tanggung jawab sekolah, padahal sebagian besar kehidupan anak berlangsung di luar ruang kelas. Mereka belajar dari cara orang tua memperlakukan pasangan, dari cara guru menghargai murid, dari bahasa para pemimpin, dan dari sikap masyarakat dalam menyikapi perbedaan. Karakter tidak diwariskan melalui ceramah, tetapi melalui kehidupan sehari-hari.

Karena itu, membangun generasi tidak cukup dimulai dengan memperbaiki kurikulum. Perubahan tidak dimulai dari ruang sidang, melainkan dari ruang keluarga. Perubahan tidak dimulai dari hukuman, melainkan dari keteladanan. Inilah pelajaran besar yang ditunjukkan Rasulullah saw. Beliau tidak hanya mengajarkan nilai-nilai Islam melalui lisan, tetapi lebih dahulu menghadirkannya dalam akhlak dan perilaku.

Kejujuran, kasih sayang, amanah, dan kesederhanaan menjadi dakwah yang hidup sehingga para sahabat belajar bukan hanya dari perkataan beliau, melainkan dari kehidupan beliau. Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah Swt., "Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar..." (QS. At-Taubah [9]: 71). Ayat ini menegaskan bahwa pembentukan karakter adalah tanggung jawab kolektif. Keluarga, sekolah, masjid, dan masyarakat bukanlah institusi yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan mata rantai yang saling menguatkan.

Namun, yang kita saksikan hari ini justru sebaliknya. Kita lebih cepat memberi label daripada memberi pendampingan. Kita lebih mudah menghakimi daripada memahami. Kita lebih ramai mengomentari kesalahan anak-anak daripada menghadirkan teladan bagi mereka. Akibatnya, generasi muda tumbuh di tengah banjir informasi, tetapi kekurangan figur yang layak dipercaya. Yang diperebutkan hari ini bukan perhatian anak-anak, tetapi kepercayaan mereka. Ketika kepercayaan itu berpindah kepada layar, algoritma, dan tokoh-tokoh virtual, maka ruang pendidikan perlahan berpindah dari rumah ke gawai. 

Tidak ada mesin pencari yang mampu menggantikan kehangatan seorang ayah, kebijaksanaan seorang ibu, ketulusan seorang guru, ataupun kepedulian seorang tokoh masyarakat. Nilai-nilai kehidupan tidak diwariskan oleh algoritma, melainkan oleh hubungan antarmanusia. Karena itu, pekerjaan terbesar kita hari ini bukan sekadar mengurangi kenakalan remaja, tetapi mengembalikan wibawa keteladanan orang dewasa. 

Pada akhirnya, kita perlu berhenti bertanya mengapa anak-anak berubah, lalu mulai bertanya, apa yang mereka lihat dari kita setiap hari? Sebab sebelum mereka mengenal teori tentang kejujuran, mereka telah melihat bagaimana kita bersikap terhadap kebenaran; sebelum mereka belajar tentang kesantunan, mereka telah mendengar bagaimana kita berbicara; dan sebelum mereka memahami arti tanggung jawab, mereka telah menyaksikan bagaimana kita menunaikan amanah. 

Anak-anak tidak tumbuh dari nasihat yang paling sering mereka dengar, tetapi dari teladan yang paling sering mereka lihat. Maka, jika kita menginginkan generasi yang lebih berintegritas, lebih santun, dan lebih bertanggung jawab, perubahan pertama tidak dimulai dari mereka, melainkan dari kita. Sebab, pada akhirnya, remaja hanya sedang meniru.wallahu a’lam

Reporter: Redaksi
Back to top