Setengah Abad Membela Alam, Dr. Elviriadi Luncurkan Buku Perjuangan Ekologis di Pekanbaru

Penulis: Redaksi  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 10:24:00 WIB

Pekanbaru - Dunia lingkungan hidup di Riau kembali mendapat energi baru. Pakar lingkungan sekaligus pejuang ekologis ternama, Dr. Elviriadi dijadwalkan meluncurkan sekaligus membedah buku terbarunya berjudul “Dari Tanah Jantan Membela Hutan (Setengah Abad Perjuangan Ekologis Dr. Elviriadi)” pada Jumat, 22 Mei 2026.
Kegiatan tersebut akan berlangsung di Gedung Perpustakaan dan Arsip Pekanbaru, Jalan Jenderal Sudirman, mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai. 

Agenda ini diperkirakan menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan gerakan lingkungan hidup di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau yang selama puluhan tahun menghadapi persoalan deforestasi, kebakaran hutan dan lahan, hingga ekspansi korporasi yang mengancam ruang hidup masyarakat.

Peluncuran buku edisi khusus tersebut semakin istimewa karena dijadwalkan akan dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat. Kehadiran Menteri LH dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi panjang Dr. Elviriadi dalam memperjuangkan penyelamatan lingkungan hidup dari bumi Lancang Kuning.

Buku “Dari Tanah Jantan Membela Hutan” bukan sekadar karya literasi biasa. Buku ini merekam perjalanan panjang perjuangan ekologis Dr. Elviriadi selama hampir setengah abad, mulai dari advokasi penyelamatan hutan, kritik terhadap praktik eksploitasi sumber daya alam, hingga keberpihakannya kepada masyarakat adat dan kelompok rentan yang terdampak kerusakan lingkungan.

Dalam setiap lembarannya, pembaca disuguhkan potret nyata konflik ekologis, ketimpangan pengelolaan sumber daya alam, serta keberanian seorang akademisi yang memilih berdiri di garis perjuangan ketimbang menikmati kenyamanan kekuasaan maupun fasilitas korporasi.

Dr. Elviriadi selama ini dikenal luas sebagai sosok yang konsisten menjaga integritas perjuangan lingkungan. Sikap itu tergambar dari kutipan tajam yang terpampang di sampul bukunya:

“Lebih baik makan nasi dengan garam, daripada menerima ‘oleh-oleh’ korporasi hitam.”

Kalimat tersebut menjadi simbol perlawanan moral terhadap praktik-praktik eksploitasi lingkungan demi kepentingan ekonomi sesaat. Ketegasan sikap itu pula yang membuat nama Dr. Elviriadi dihormati di kalangan aktivis, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat akar rumput.

Peluncuran dan bedah buku ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni intelektual, tetapi juga menjadi alarm kesadaran publik tentang pentingnya menjaga kelestarian alam di tengah derasnya arus eksploitasi sumber daya alam.
Selain menjadi catatan sejarah perjuangan ekologis, buku ini diyakini dapat menjadi referensi penting bagi generasi muda, pegiat lingkungan, mahasiswa, hingga para pengambil kebijakan agar tidak kehilangan arah dalam memperjuangkan masa depan bumi yang lebih lestari.

Di tengah kondisi lingkungan yang terus menghadapi ancaman serius, kehadiran buku ini menjadi pengingat bahwa menjaga hutan dan alam bukan hanya tugas aktivis semata, melainkan tanggung jawab bersama demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Reporter: Redaksi
Back to top