Perjuangan di Tengah Lumpur: Kisah Guru Eci Suriani dan Siswa Desa Keriung Menjemput Mimpi

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 21 April 2026 | 23:54:00 WIB

Pelalawan - Di tengah lebatnya hutan tanaman industri, saat kabut pagi masih menggantung di antara pepohonan dan suara alam menjadi teman setia, terkuak sebuah kisah yang diam-diam menggetarkan hati, kisah tentang perjuangan siswa dan guru demi satu tujuan pendidikan. Selasa (21/4/2026) 

Langkah mereka dimulai sejak pagi, menyusuri jalan tanah yang berubah menjadi kubangan lumpur setiap kali hujan turun. Di kiri dan kanan, hutan menjulang sunyi, seakan menjadi saksi bisu perjalanan yang tak mudah. Sepatu mereka tenggelam dalam lumpur, pakaian basah melekat di tubuh, dan dingin merayap tanpa ampun. Namun tak satu pun dari mereka berbalik arah.

Di barisan itu, ada sosok guru, Eci Suriani, yang berjalan di antara murid-muridnya. Bukan sekadar mengajar di dalam kelas, ia turut merasakan setiap langkah berat, setiap licin jalan yang dilalui anak-anak didiknya. Dengan sabar dan ketulusan, ia memastikan tak ada yang tertinggal—karena baginya, setiap anak adalah harapan yang harus dijaga.

Wajah-wajah kecil itu menyimpan cerita. Ada yang menggigit bibir menahan dingin, ada yang berusaha tetap tersenyum meski kaki mereka nyaris tak kuat melangkah. Tawa yang biasanya riang hari itu tenggelam oleh rintik hujan dan suara langkah yang berat. Namun di mata mereka, tersimpan cahaya—cahaya mimpi yang tak padam.

Jalan rusak, becek, dan licin itu bukan sekadar hambatan. Ia adalah ujian yang mereka hadapi hampir setiap hari di Desa Keriung, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan. Sebuah realita yang mengiris hati, ketika semangat belajar harus bersaing dengan kerasnya alam dan keterbatasan fasilitas. 

Namun justru dari keterbatasan itulah lahir kekuatan. Dari jalan berlumpur itu tumbuh keteguhan. Dari dinginnya hujan, terpatri semangat yang tak mudah runtuh. Dan dari langkah kecil yang mereka tapaki setiap hari, tersimpan mimpi besar untuk masa depan.

Kisah ini bukan hanya tentang perjalanan ke sekolah. Ini adalah potret nyata tentang harapan, ketulusan, dan perjuangan yang sering luput dari perhatian. Sebuah pengingat, bahwa di balik kemajuan yang kita rasakan, masih ada sudut negeri yang menanti uluran tangan—agar anak-anak di sana bisa melangkah dengan lebih layak, tanpa harus bertaruh dengan kerasnya alam demi sebuah cita-cita.

Reporter: Redaksi
Back to top